Ternyata Ucapan Natal Tidak Dilarang Dalam Islam

Memang ada sebagian ulama yang berpendapat diperbolehkannya umat muslim mengucapkan selamat natal. Namun, pendapat tersebut tidak sampai di kalimat itu saja. Umat muslim diperbolehkan ucapkan selamat natal, tapi tidak untuk ikut merayakan hari natal. Selain itu juga ada ketentuan-ketentuan lainnya. Ulama mana yang berpendapat seperti itu?

Jumhur ulama kontemporer membolehkan mengucapkan selamat Hari Natal.
Di antaranya Syeikh Yusuf al Qaradhawi yang berpendapat bahwa “perubahan kondisi global-lah yang menjadikanku berbeda dengan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah didalam mengharamkan pengucapan selamat hari-hari Agama orang-orang Nasrani atau yang lainnya”.

Syeikhul Yusuf al Qaradhawi membolehkan pengucapan itu apabila mereka (orang-orang Nasrani atau non muslim lainnya) adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin, terlebih lagi apabila ada hubungan khusus antara dirinya (non muslim) dengan seorang muslim, seperti : kerabat, tetangga rumah, teman kuliah, teman kerja dan lainnya.

Hal ini termasuk didalam berbuat kebajikan yang tidak dilarang Allah swt namun dicintai-Nya sebagaimana Dia swt mencintai berbuat adil. Firman Allah swt :Artinya :

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Itulah salah satu alasan pendapat ulama yang memperbolehkan umat muslim mengucapkan selamat natal.

Lalu Bagaimana dengan Alasan Ulama yang Mengharamkan Ucapan Natal?

Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan para pengikutnya seperti Syeikh Ibn Baaz, Syeikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah merahmati mereka, serta yang lainnya seperti Syeikh Ibrahim bin Muhammad al Huqoil berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal hukumnya adalah haram karena perayaan ini adalah bagian dari syiar-syiar agama mereka.

Allah tidak meredhoi adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya didalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan ini diharamkan.

Di antara bentuk-bentuk tasyabbuh :
1. Ikut serta didalam hari raya tersebut.
2. Mentransfer perayaan-perayaan mereka ke negeri-negeri islam.

Mereka juga berpendapat wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut.

Tidak menolong seorang muslim didalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus di dalam ibadah mereka.
(Sumber: eramuslim).

Terus Sebagai Muslim yang Baik, Kita Harus Ikut Pendapat yang Mana?

Masalah ikut pendapat mana dari kedua pendapat ulama di atas, itu adalah hak masing-masing. Yang terpenting dalam mengikuti pendapat, kita harus ada dasarannya yang kuat. Yang menjadi catatan, kebanyakan masyarakat umum salah dalam memaknai kata toleransi yang sebenarnya dalam tema ini.

“Mengapa orang Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal? Bukankah saat Idul Fitri orang Kristen mengucapkan Selamat Lebaran?”

“Kalau tidak mengucapkan nanti dianggap tidak menghormati. Kan kita harus saling toleransi untuk menjaga kerukunan umat beragama.”

Tidak hanya orang Kristen dan umat beragama non Islam yang sering mengucapkan kalimat-kalimat ini, ternyata masih banyak orang Islam yang masih mempertanyakan dan meragukan mengapa umat Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal kepada orang Kristen. Rupanya masih banyak yang belum paham makna dari kata toleransi beragama.

Toleransi beragama dilaksanakan bukan dengan mengucapkan selamat kepada yang merayakan Natal atau ikut menghadiri undangan perayaan Natal. Akan tetapi, bentuk toleransi kita adalah dengan membiarkan orang Kristen melaksanakan dan merayakan hari raya mereka tanpa kita ganggu. Titik.

“Lho, tapi kan tidak sopan kalau tidak mengucapkan. Kan katanya segala sesuatu berawal dari niat. Berarti kalau kita tidak berniat mengakui natal tapi hanya berniat mengucapkan untuk menjaga hubungan kan nggak apa-apa?”

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (Q.S Al Kafiruun: 6)

Ayat ini menunjukkan ketegasan Islam dalam hal akidah. Toleransi bukan berarti kita terjebak dalam kekufuran, bukan berarti kita harus menggadaikan akidah demi ketakutan yang semu terhadap manusia. Bukankah seharusnya kita lebih takut apabila Allah SWT tidak ridho kepada kita?

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S Al Maaidah: 44)

Walaupun niat kita ‘hanya’ untuk menjaga hubungan, tapi hukumnya sama saja dengan kita mengakui bahwa natal adalah hari kelahiran Yesus yang dianggap sebagai Tuhan oleh umat Kristen. Padahal dalam Islam sudah jelas sekali bahwa Yesus (Nabi Isa) adalah seorang Nabi, bukan seorang Tuhan, apalagi anak Tuhan.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.“ (Q.S Al Maaidah: 72)

Natal sendiri sebenarnya hanyalah merupakan hasil kesepakatan gereja-gereja akibat pengaruh tradisi Roma. Hari yang diyakini oleh umat Kristen sebagai hari ‘kelahiran’ Tuhan mereka ternyata tidak lebih dari hasil campur tangan manusia yang menetapkan bahwa 25 Desember adalah hari kelahiran Tuhan mereka. Bahkan para teolog mereka pun masih banyak yang berselisih mengenai kapan sebenarnya kelahiran Yesus.

25 Desember diyakini sebagai kelahiran Dewa Mithra oleh orang Yunani dan orang Latin pun merayakan kelahiran Sol Invictus (Dewa Matahari ) pada hari yang sama. Sejak abad ke-4 Masehi gereja Katolik akhirnya menggunakan tanggal ini untuk merayakan 25 Desember sebagai kelahiran Yesus dan menggeser kenyataan bahwa sebenarnya hari itu adalah perayaan kelahiran dewa.

Akibatnya, simbol Dewa Matahari masih dipakai dalam perayaan natal yaitu dengan mengganti simbol bahwa Yesus adalah Sang Matahari Kebenaran Penerang Dunia.

Jadi, perayaan Natal sebagai kelahiran Yesus sebenarnya salah kaprah. Nah, bagaimana kita sebagai umat Islam menyikapi hal ini? Karena sudah nyata kesalahan perayaan natal baik dari segi sejarah dan akidah maka seharusnya kita sebagai orang Islam yang taat, tidak ikut-ikutan dalam perayaan Natal ataupun sekedar mengucapkan selamat kepada umat yang merayakan Natal.

Sebenarnya masih banyak orang Kristen yang berpikiran terbuka dan mau mengerti mengapa kita sebagai umat Islam tidak boleh mengucapkan dan ikut dalam perayaan Natal. Jadi sebenarnya ketakutan umat Islam akan pecahnya kerukunan apabila tidak saling mengucapkan selamat hari raya itu kurang beralasan.

Cukuplah kita membiarkan umat Kristen merayakan hari raya mereka ataupun melaksanakan ibadah mereka yang lain dengan tenang tanpa kita ganggu. Itulah bentuk toleransi Islam yang sebenarnya.

”Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk liang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula”. Sebagian sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau menjawab: ”Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari penjelasan di atas, kita bisa ambil kesimpulan bahwasanya toleransi itu memang penting. Namun, jangan sampai kita umat muslim salah memaknai toleransi dalam tema ini. Toleransi yang seharusnya adalah bukan mengucapkan selamat merayakan natal, tapi mengucapkan silahkan merayakan natal.

Karena kata selamat itu memiliki makna yang jauh berbeda dengan kata silahkan. Wallahu’alam bi shawab. (Sumber: musliemsein)

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: